Di bawah ini, saya mencoba menuliskan kata-kata yang baku dalam bahasa Indonesia. Yang mungkin kerap kali kita ucapkan, yuk simak!
Baku Tidak Baku
Azan Adzan
Magrib Maghrib
Asar Ashar
Zuhur Dzuhur
Foto Photo
Maaf Ma'af/Maap
Isya Isya'
Izin Ijin
Ambrol Amberol
Ambruk Amberuk
Sahdu Syahdu
Sah Syah
Saf Sab/Syaf
Zuhud Zuhut
Daftar Pustaka
Kamus Besar Bahasa Indonesia/ Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, ed. 3.- Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Entri Populer
-
Akhir-akhir ini Anda sering menghadiri acara reuni bersama teman-teman lawas? HAti-hati dengan fenomena cinta lama bersemi kembali atau CLBK...
-
Di bawah ini, saya mencoba menuliskan kata-kata yang baku dalam bahasa Indonesia. Yang mungkin kerap kali kita ucapkan, yuk simak! Baku ...
-
"Beli rujak bang, yang pedas ya, tapi jangan pakai nanas."Ujar seorang ibu muda saat membeli rujak serut di pinggir jalan itu. ...
-
Tak bersuara engkau Kukira tak akan datang Diam saja, entah kapan... Aku pun tenang saja Diam..., diam Ternyata sudah tak ada nafas di...
-
Salada nan Eksotis Bahan: 1 buah brokoli (100g), potong perkuntum, rebus, dan rendam dengan air es 1 buah kembang kol (100g), potong perk...
-
Nama panggilan gadis kecil berambut pendek dan berponi itu adalah Ara. Ia lahir tiga tahun yang lalu. Teringat ketika ia masih di dalam rahi...
-
Toko TITIP. Tulisan itu tertera di sebuah rumah yang didekorasi dengan menarik. Cukup menarik. Ternyata itu sebuah toko asesoris untuk wanit...
-
makalah "MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA " KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik Alla...
-
Menunda sesuatu yang mudah akan menjadikannya sulit dan menunda sesuatu yang sulit akan menjadikannya tidak mungkin dilakukan". (Robert...
-
Syukur, sabar mudah diucapkan namun tak mudah diterapkan duhai... dunia, kau begitu indah warnamu sungguh menggodaku meraihmu pundi-pu...
Arsip Blog
Mengenai Saya
- PENA LOVE
- Blog ini saya beri nama INSPIRASI PEREMPUAN. Mengulik tentang semua hal yang berhubungan dengan perempuan.Berbicara seputar Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan, dan lain-lain.Ini adalah blog pertama yang saya buat. Walau sederhana semoga dapat memberikan pencerahan dan manfaat bagi semuanya. Salam Persaudaraan ^_^
Selasa, 16 Agustus 2011
Jumat, 05 Agustus 2011
Bukan CLBK (CintaLamaBersemiKembali)
Akhir-akhir ini Anda sering menghadiri acara reuni bersama teman-teman lawas? HAti-hati dengan fenomena cinta lama bersemi kembali atau CLBK. Bukan cintanya yang berbahaya, tapi kebencian yang menyertai munculnya kembali cinta itu yang berujung maut. Kalimat-kalimat itu tertulis sebelum sebuah kisah dituliskan tentang Cinta Lama Bersemi Kembali. Ini adalah kisah nyata...
Singkat kisah sang pria dan sang wanita yang beberapa tahun lalu masih muda dan mengikat tali cinta saat duduk di bangku sekolah. Cinta mereka adalah cinta pertama, yang sungguh (dikisahkan)begitu menggebu dan berjanji setia untuk selalu bersama.Namun kenyataan berkendak lain, lulus sekolah sang pria memutuskan kuliah di luar kota. Tak bisa mentoleransi cinta jarak jauh, keduamya memutuskan berhenti berpacaran begitu saja. Masih sama-sama muda(waktu itu) dua-duanya sama-sama tidak mau kalah. Meski seusai menyelesaikan kuliah, saat sang pria kembali ke kampung halamannya di Boston dan bersua kembali dengan sang wanita, hubungan cinta mereka nyambung kembali. Sang wanita yang tak ingin kehilangan kekasih untuk kedua kalinya, langsung meminta agar sang pria melamarnya. Sang wanita sesungguhnya memang ingin nikah muda, tetapi sang pria belum siap. Lagi, mereka berpisah. Kali ini lebih serius.Lebih lama. Bertahun-tahun mereka tak tukar berita. Sang wanita akhirnya memutuskan menikah dengan lelaki lain yang sebenarnya tak dicintainya. Dan tak pernah ia cintai. Tujuh tahun menikah sang wanita yang menikah dengan pria yang tak pernah ia cintai dianugrahi tiga orang anak.
Tahun 2005, ketiika ia berusia 36 tahun berjumpa lagi dengan pria cinta lamanya itu. Saat itu usia sang pria berusia 39 tahun. Ternyata keduanya "lengket"kembali. Bisa dibayangkan bukan apa yang selanjutnya terja-
di? Yap! Hal-hal gila yang dulu terjadi, muncul lagi. Mereka berjanji tidak ingin terpisah lagi! Kali ini bertekad saling melindungi apapun yang terjadi, dan mencoba memulai lagi apa yang pernah mereka tinggalkan dulu. ..
Kebetulan, saat itu rumah tangga sang wanita (Stacey) dan Jim tengah berada diujung tanduk. Stacey menggugat cerai dan mereka tengah mengurus perceraian di pengadilan. Hal ini membuat sang wanita kian leluasa berhubungan dengan sang lelaki cinta lamanya(Ed). Cinta lama yang terkubur bertahun-tahun betul-betul bangkit kembali. Setidaknya sampai 13 JAnuari 2006, saat Edditemulkan tewas secara mengenaskan di mobilnya! Dan tentu pihak kepolisian mencari saiapa yang telah membunuh Ed.
Diawal penyelidikan, dari sekian fakta yang terangkum yaitu berhubungan dengan cinta segitiga...
Sampai disitu saya stop membaca cerita itu. Hmmm., MasyaAllah, cinta itu buta. Cinta itu menulikan telingan.Mematikan mkata hati dan akal sehat. Sungguh, memang setiap manusia (pasti) memiliki masa lalu. Baik atau buruk. Hitam atau putih. Namun, orang-orang yang beruntung adalah orang yang setelah melakukan kesalahan lalu ia bertaubat tidak melakukan kesalahan (yang sama) dikemudian hari. Bukankah Allah SWT., Tuhan Yang MAha Esa MAha Pemaaf atas segala kesalahan hamba-Nya? Ibarat kita mengendarai motor atau mobil sesekali kita perlu melihat kaca sepion bukan? Tentu agar kita mengetahui ada apa di belakang kita. Begitupula kita, tentu punya masa lalu. Namun ingat, masa lalu tak akan kembali, karena waktu terus berputar. Maju. Bukan mundur. Waktu adalah kehidupan, bila tak bisa memanfaatkan waktu maka kita bisa tergilas...Sungguh Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dikaruniai akal, jasad, dan hati. Akal untuk berfikir. Memikirkan ciptaan Allah, memikirkan kebesaran-Nya. Jasad yang begitu sempurna. Cantik. Tampan. Indah. Dan hati untuk merasai. Berdzikir pada Sang Maha Pencipta. Bukan malah sebaliknya. Menjadi sombong, ingkar, memperturutkan hawa nafsu, cenderung mengikuti langkah-langkah syaitan. Tentu bila kita seorang yang mau memahami tujuan Allah SWT., Tuhan Yang Maha Hebat yang telah menciptakan manusia adalah untuk beribadah pada-Nya. Mempunyai tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, menjadi pemimpin yang memakmurkan bumi, bukan sebaliknya...
Jadi rasa cinta haruslah dipupuk dengan keimanan. Bukan mengikuti hawa nafsu. Bukan mengikuti langkah-langkah syaithan. Rasa cinta adalah fitrah manusia. Cinta kepada lawan jenis, cinta harta, anak keturunan, dan kekuasaan. Namun cinta tertinggi hanya pada Allah SWT.,dan Rasul-Nya. Tentu bila kita seorang muslim yang mau mempelajari ajaran-ajaran-Nya hal seperti ini akan didengarkan, difahami, dan diikuti, ditaati. Hubungan "rasa pink" yang ada di hati di dalam Islam tentulah ada tuntunannya. Nikah. Yap! Namun pacaran, not! Lelaki dan perempuan memang diciptakan Allah sebagai pasangan, agar satu sama lain merasa tentram.Saling menyayangi, saling melengkapi. Sebagaimana Allah ciptakan malam dan siang. Malam untuk kita beristirahat, siang waktu kita bekerja, berusaha. So, bila ada cerita lama dalam hidup kita yang berkaitan dengan hati, perasaan. Lalu kita dipertemukan kembali dalam waktu yang berbeda dan keadaan yang tak sama cukup kenangan itu kita buka bila ingin mengintropeksi diri saja, bukan dijadikan tujuan akhir dalam kehidupan kita. Waktu bagaikan pedang, sobat. Jangan sampai tertebas leher sendiri. Syukuri nikmat yang Allah berikan kepada diri kita. Mempunyai keluarga yang utuh, bahagia, sehat, dan penuh dengan cinta sekarang dan masa yang akan datang. Karena boleh jadi apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah SWT. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, maka nikmat Allah SWT akan bertambah, amiiin. Jadi bila reuni-an terus bertemu "teman lama" cukup sudah! ^_^ Tatap masa depan bersama pasangan yang diberikan-Nya kepada kita. Karena Allah Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita. Jangan membuka pintu-pintu setan dengan ucapan-ucapan: Seandainya....karena itu akan membuka pintu-pintu setan. Ingatlah bahwa setan musuh manusia yang paling nyata. Semoga tulisan hari ini bermanfaat untuk saling mengingatkan.
Singkat kisah sang pria dan sang wanita yang beberapa tahun lalu masih muda dan mengikat tali cinta saat duduk di bangku sekolah. Cinta mereka adalah cinta pertama, yang sungguh (dikisahkan)begitu menggebu dan berjanji setia untuk selalu bersama.Namun kenyataan berkendak lain, lulus sekolah sang pria memutuskan kuliah di luar kota. Tak bisa mentoleransi cinta jarak jauh, keduamya memutuskan berhenti berpacaran begitu saja. Masih sama-sama muda(waktu itu) dua-duanya sama-sama tidak mau kalah. Meski seusai menyelesaikan kuliah, saat sang pria kembali ke kampung halamannya di Boston dan bersua kembali dengan sang wanita, hubungan cinta mereka nyambung kembali. Sang wanita yang tak ingin kehilangan kekasih untuk kedua kalinya, langsung meminta agar sang pria melamarnya. Sang wanita sesungguhnya memang ingin nikah muda, tetapi sang pria belum siap. Lagi, mereka berpisah. Kali ini lebih serius.Lebih lama. Bertahun-tahun mereka tak tukar berita. Sang wanita akhirnya memutuskan menikah dengan lelaki lain yang sebenarnya tak dicintainya. Dan tak pernah ia cintai. Tujuh tahun menikah sang wanita yang menikah dengan pria yang tak pernah ia cintai dianugrahi tiga orang anak.
Tahun 2005, ketiika ia berusia 36 tahun berjumpa lagi dengan pria cinta lamanya itu. Saat itu usia sang pria berusia 39 tahun. Ternyata keduanya "lengket"kembali. Bisa dibayangkan bukan apa yang selanjutnya terja-
di? Yap! Hal-hal gila yang dulu terjadi, muncul lagi. Mereka berjanji tidak ingin terpisah lagi! Kali ini bertekad saling melindungi apapun yang terjadi, dan mencoba memulai lagi apa yang pernah mereka tinggalkan dulu. ..
Kebetulan, saat itu rumah tangga sang wanita (Stacey) dan Jim tengah berada diujung tanduk. Stacey menggugat cerai dan mereka tengah mengurus perceraian di pengadilan. Hal ini membuat sang wanita kian leluasa berhubungan dengan sang lelaki cinta lamanya(Ed). Cinta lama yang terkubur bertahun-tahun betul-betul bangkit kembali. Setidaknya sampai 13 JAnuari 2006, saat Edditemulkan tewas secara mengenaskan di mobilnya! Dan tentu pihak kepolisian mencari saiapa yang telah membunuh Ed.
Diawal penyelidikan, dari sekian fakta yang terangkum yaitu berhubungan dengan cinta segitiga...
Sampai disitu saya stop membaca cerita itu. Hmmm., MasyaAllah, cinta itu buta. Cinta itu menulikan telingan.Mematikan mkata hati dan akal sehat. Sungguh, memang setiap manusia (pasti) memiliki masa lalu. Baik atau buruk. Hitam atau putih. Namun, orang-orang yang beruntung adalah orang yang setelah melakukan kesalahan lalu ia bertaubat tidak melakukan kesalahan (yang sama) dikemudian hari. Bukankah Allah SWT., Tuhan Yang MAha Esa MAha Pemaaf atas segala kesalahan hamba-Nya? Ibarat kita mengendarai motor atau mobil sesekali kita perlu melihat kaca sepion bukan? Tentu agar kita mengetahui ada apa di belakang kita. Begitupula kita, tentu punya masa lalu. Namun ingat, masa lalu tak akan kembali, karena waktu terus berputar. Maju. Bukan mundur. Waktu adalah kehidupan, bila tak bisa memanfaatkan waktu maka kita bisa tergilas...Sungguh Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dikaruniai akal, jasad, dan hati. Akal untuk berfikir. Memikirkan ciptaan Allah, memikirkan kebesaran-Nya. Jasad yang begitu sempurna. Cantik. Tampan. Indah. Dan hati untuk merasai. Berdzikir pada Sang Maha Pencipta. Bukan malah sebaliknya. Menjadi sombong, ingkar, memperturutkan hawa nafsu, cenderung mengikuti langkah-langkah syaitan. Tentu bila kita seorang yang mau memahami tujuan Allah SWT., Tuhan Yang Maha Hebat yang telah menciptakan manusia adalah untuk beribadah pada-Nya. Mempunyai tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, menjadi pemimpin yang memakmurkan bumi, bukan sebaliknya...
Jadi rasa cinta haruslah dipupuk dengan keimanan. Bukan mengikuti hawa nafsu. Bukan mengikuti langkah-langkah syaithan. Rasa cinta adalah fitrah manusia. Cinta kepada lawan jenis, cinta harta, anak keturunan, dan kekuasaan. Namun cinta tertinggi hanya pada Allah SWT.,dan Rasul-Nya. Tentu bila kita seorang muslim yang mau mempelajari ajaran-ajaran-Nya hal seperti ini akan didengarkan, difahami, dan diikuti, ditaati. Hubungan "rasa pink" yang ada di hati di dalam Islam tentulah ada tuntunannya. Nikah. Yap! Namun pacaran, not! Lelaki dan perempuan memang diciptakan Allah sebagai pasangan, agar satu sama lain merasa tentram.Saling menyayangi, saling melengkapi. Sebagaimana Allah ciptakan malam dan siang. Malam untuk kita beristirahat, siang waktu kita bekerja, berusaha. So, bila ada cerita lama dalam hidup kita yang berkaitan dengan hati, perasaan. Lalu kita dipertemukan kembali dalam waktu yang berbeda dan keadaan yang tak sama cukup kenangan itu kita buka bila ingin mengintropeksi diri saja, bukan dijadikan tujuan akhir dalam kehidupan kita. Waktu bagaikan pedang, sobat. Jangan sampai tertebas leher sendiri. Syukuri nikmat yang Allah berikan kepada diri kita. Mempunyai keluarga yang utuh, bahagia, sehat, dan penuh dengan cinta sekarang dan masa yang akan datang. Karena boleh jadi apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah SWT. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, maka nikmat Allah SWT akan bertambah, amiiin. Jadi bila reuni-an terus bertemu "teman lama" cukup sudah! ^_^ Tatap masa depan bersama pasangan yang diberikan-Nya kepada kita. Karena Allah Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita. Jangan membuka pintu-pintu setan dengan ucapan-ucapan: Seandainya....karena itu akan membuka pintu-pintu setan. Ingatlah bahwa setan musuh manusia yang paling nyata. Semoga tulisan hari ini bermanfaat untuk saling mengingatkan.
Jakarta, 6 Juli 2011
Jumat, 29 Juli 2011
Nasehat yang Diam(Mengenang Kebaikan)
Tak bersuara engkau
Kukira tak akan datang
Diam saja, entah kapan...
Aku pun tenang saja
Diam..., diam
Ternyata sudah tak ada nafas di raga
Innalillahi...
Air mata,mata air mengalir
Kematian datang menghampiri
Menghampiri dengan diam tanpa ada pengumuman
Menyambutnya dengan penuh kesiapan
Sungguhlah lebih menjaga
Keselamatan dunia akhirat
Munajat hamba disetiap waktu
Nasehat yang diam
Semoga kebaikan yang tertulis dibanyak catatan amal
Layaknya bertemu kekasih haruslah wangi semerbak
Menyambut nasehat yang diam namun pasti
Adalah keharusan
Kematian
Kukira tak akan datang
Diam saja, entah kapan...
Aku pun tenang saja
Diam..., diam
Ternyata sudah tak ada nafas di raga
Innalillahi...
Air mata,mata air mengalir
Kematian datang menghampiri
Menghampiri dengan diam tanpa ada pengumuman
Menyambutnya dengan penuh kesiapan
Sungguhlah lebih menjaga
Keselamatan dunia akhirat
Munajat hamba disetiap waktu
Nasehat yang diam
Semoga kebaikan yang tertulis dibanyak catatan amal
Layaknya bertemu kekasih haruslah wangi semerbak
Menyambut nasehat yang diam namun pasti
Adalah keharusan
Kematian
Rabu, 20 Juli 2011
cerpen 1
Shalat Yuk Mi
Kemarin baru saja buku laporan Mimi sudah diambil bunda. Hasilnya lumayan bagus. Dan Mimi naik ke kelas TK B.Bagus. Pagi ini awal hari libur. “Bangun Mi, shalat Mi….” Bunda menepuk-nepuk kaki Mimi pelan. “Ahh Bunda, Mimi masih ngantuk….” Ujar Mimi sambil memeluk. Mimi mimi. Mama pergi ke belakang mengambil air rupanya. Mama menciprati wajah Mimi dengan air!! Akhirnya Mimi bangun juga. Waktu menunjukn pukul 05.30wib. Mimi langsung ke kamar mandi. Cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Kemudian Mimi shalat subuh. “AllahuAkbar…”
Mimi nama panggilannya. Nama pemberian dari kedua orang tuanya adalah Hilmi Muhammad Al Fatih. Mimi lahir lima tahun yang lalu. Hobinya makan dan main gangsing. Dan satu hal lagi yang unik dari Mimi , ia paling susah diajak untuk shalat. Ada saja alasannya, cape, malas, nanti saja dan lain-lain. Bunda Mimi selalu membiasakan anak-anaknya untuk shalat, walau masih kecil sekalipun. Mimi adalah anak kedua. Kakaknya bernama Hidayat. Itulah sekilas tentang Mimi.
“Bun…, lapar…, Bunda masak apa?” Bunda bikin nasi goreng,mau?” Tanya bunda. “Mau dong, Bun.” “Allahumma barriklana lanaa fimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar.” Dengan lahap Mimi menyantap nasi goreng buatan bunda, lezatt. Bersih. Tak tersisa sebutir nasi pun di piringnya. Cocok, Mimi khan hobi makan.
Malam harinya. Selesai shalat Isya, bunda, ayah, Mimi, dan kakaknya berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati acara di televisi. “Besok kita mau ke mana nih?”Tanya ayah membuka percakapan. “Yayat mau nginep di rumah nenek, Yah. Di sana khan ada mas Idang, mas Dafa, Acha, Rafi, dan mas Ipan.”Sahut Hidayat, kakak Mimi. Ayah mengangguk. “Mimi juga Yah…”Timpal Mimi. “Baik, besok kalian boleh menginap di rumah nenek. Liburan di sana selama sepekan, ya.” “Asyikkkk…..terima kasih Yah, Bun.” Mimi dan Hidayat berlari ke kamar.”Eeeettt tunggu dulu. Ini Bunda ada buku cerita, baru Bunda beli tadi pagi, selagi pergi ke sekolah Mimi.”Ibu berkata sambil mengajak Mimi dan Hidayat duduk di sofa. Mimi dan Hidayat menuruti permintaan bunda. Mereka duduk bersama. “Buku cerita ini adalah buku bacaan bunda dan ayah juga. Coba kita lihat sama-sama ya…, kakak Yayat coba baca judulnya…”Pinta bunda. “Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka.” Dari judul bukunya dan ilustrasi gambarnya yang dasyat. Membuat Mimi dan Hidayat ngeri. Bunda dan ayah juga.
Bermula ada tukang mainan anak dan ada beberapa buku ini juga. “Ini buku waktu saya kecil nih, masih ada aja,”Ujar Bunda waktu itu. “Ini bagus bu, buat “nakut-nakutin anak”. Kata abang penjualnya. Bunda jadi teringat Mimi. Bismillah.., bunda beli aja Yah. Mudah-mudahan ini bisa menggerakkan Mimi untuk mulai belajar shalat.” Cerita bunda kepada ayah. Luruskan niat, bukan mau menakut-nakuti anak semata….
Dikisahkan dalam buku cerita bergambar itu, dua orang anak manusia yang masih kecil dengan latar kehidupan yang berbeda. Karma, ia seorang anak yang secara ekonomi sangat berkecukupan. Ibu dan bapaknya sibuk bekerja di kantor. Dari pagi hingga larut malam. Karma diasuh oleh pembantu rumah tangga. Karma banyak menghabiskan waktunya dengan bermain dan menonton televisi. Dan seorang lagi yang bernama Amir hidup dengan sederhana, namun ia memiliki orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan yang baik. Ia tumbuh menjadi anak yang baik, suka belajar, dan rajin pergi mengaji. Ia pun belajar dengan giat dan menjadi murid yang berprestasi. Sedang Karma sebaliknya. Ia tumbuh menjadi anak yang manja, tidak suka belajar, dan suka bolos sekolah. Dua karakter manusia ini, ternyata sungguh membekas di hati Mimi dan Hidayat. “Nah, kamu mau seperti siapa Amir atau Karma?”Tanya bunda disela-sela bercerita.”Amir Bun…”Jawab mereka kompak. “Baik, Bunda lanjutkan lagi ya….”
Karma lulus Sekolah Menengah Atas dengan nilai yang pas-pasan. Sedang Amir lulus dengan nilai yang bagus.” “Bisa ditebak bukan bagaimana kisah selanjutnya?” “Ayooo Bun lanjutin saja ceritanya. Kami mau tahu samapai habis.”Ujar Hidayat penasaran. Mimi mengangguk setuju.
Karma hidup dengan harta berlimpah, kuliah di luar negeri. Dan bekerja di perusahaan papanya, langsung sebagai direktur utama. Menggantikan ayahnya yang sudah tua. Sedang Hasyim melanjutkan ke perguruan tinggi dengan biaya yang sudah ia dan ayah ibunya kumpulkan bertahun-tahun. Namun karena keuletan dan kesabarannya, Amir lulus dengan nilai yang baik dan berprofesi sebagai dokter ahli syaraf. Hidupnya dekat pada agama. Berusaha keras senantiasa berpegang pada Al Quran dan sunah Rasul sebagai pedoman hidup dan kehidupannya. Ketika orangtuanya mendekati ajal, Hasyim dan keluarganya tawakal mendampingi dan mengiringinya dengan doa. Bersedekah, beramal, dan memberikan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya, sebagai dokter spesialis syaraf. Sedang Karma seorang anak yang suka berfoya-foya, bergaul di dalam lingkungan yang buruk. Dan ketika orangtuanya sakaratul maut ia pun tidak mendampingi orangtuanya seperti Amir….
Dan akhirnya Karma meninggal dunia, karena terkena penyakit yang sangat berbahaya, yang belum bisa disembuhkan.
Digambarkan keadaan surga yang begitu indah. Kulihat mata Mimi berbinar-binar. Ketika di lembar yang berkisah tentang neraka terlihat kengerian yang sangat di wajah Mimi dan Hidayat.”Di surga ada berbagai macam kesenangan kenikmatan.Keindahan dan kedamaian yang tiada bandingannya dengan yang ada di dunia ini. Tak tergambarkan oleh angan-angan manusia.”Jelas bunda. “Nah, ini adalah gambaran tentang neraka. Di sinilah berlakunya hukum pengadilan Allah bagi orang-orang yang berdosa dan pendurhaka pada Allah Swt. Timpal ayah kemudian.
Dibuka lembar demi lembar. Semakin banyak contoh-contohnya. Bunda membacakan dengan serius dibantu dengan ayah. Mimi dan Hidayat melihat dan mendengarkan dengan seksama.
“Bun, ada yang disiram dengan timah panas.” Ini hukuman bagi orang yang menigabaikan perintah agama ya, Bun. Ini ada tulisannya Bun.”Ujar Hidayat lagi. Lembar demi lembar, akhirnya selesai sudah. Habis dibaca.”Nah, sekarang kalian tidur ya.” “Bun, Mimi mau shalat isya dulu ya…”Kata Mimi bersemangat. “Iya, biar ngga masuk neraka,”Kata Hidayat. Ayah, bunda, Hidayat tidur setelah shalat Isya. Begitupun dengan Mimi. Kini Mimi lebih mudah diajak untuk shalat.
Jakarta, 1 Juli 20011
Lian Kn.
Kamis, 07 Juli 2011
"KUTIPAN DASYAT "
Selasa, 05 Juli 2011
Sampai Mati
Syukur, sabar
mudah diucapkan
namun tak mudah diterapkan
duhai... dunia,
kau begitu indah
warnamu sungguh menggodaku meraihmu
pundi-pundi yang kau tawarkan
sering membuat insan
mencari celah tuk menghalalkan yang abu-abu
abu-abumu begitu menggoda hati
halal, haram, abu-abu...
sulit
perut melilit
tak ada nasi apalagi kawannya
abu-abu ..., membuatku tergoda
kuambil kau akhirnya
Atap yang masih berpindah-pindah
memuat insan berhasrat memiliki atap yang tak berpindah
pundi-pundi pun menjadi tujuan agar atap bisa dibeli
apalagi yang kurang
tak apalah, abu-abu bisa juga dihalalkan
sabar sungguh mudah diucapkan, namun sulit amat diamalkan
Teringat munajat sehabis shalat
mohon keluasan rezki, mohon kebahagiaan dunia dan akhirat
selepas sujud
lupa doa-doaku
bisikan sandang pangan dan papan yang belum terpenuhi
duhai dunia
insan yang berlomba
jangan sampai membutakan mata dan hatiku
Syukur..., sabar
dapat ditegakan
jangan menyerah, tak usah risau
bila hati tergelitik rasa dengki
ingatlah Sang Pencipta
ahhhh, kau dunia
cukup di tanganku dan bukan di dalam hati
ambil dunia tapi jangan lupa akhiratmu
kembali, kembali....
sampai mati
mudah diucapkan
namun tak mudah diterapkan
duhai... dunia,
kau begitu indah
warnamu sungguh menggodaku meraihmu
pundi-pundi yang kau tawarkan
sering membuat insan
mencari celah tuk menghalalkan yang abu-abu
abu-abumu begitu menggoda hati
halal, haram, abu-abu...
sulit
perut melilit
tak ada nasi apalagi kawannya
abu-abu ..., membuatku tergoda
kuambil kau akhirnya
Atap yang masih berpindah-pindah
memuat insan berhasrat memiliki atap yang tak berpindah
pundi-pundi pun menjadi tujuan agar atap bisa dibeli
apalagi yang kurang
tak apalah, abu-abu bisa juga dihalalkan
sabar sungguh mudah diucapkan, namun sulit amat diamalkan
Teringat munajat sehabis shalat
mohon keluasan rezki, mohon kebahagiaan dunia dan akhirat
selepas sujud
lupa doa-doaku
bisikan sandang pangan dan papan yang belum terpenuhi
duhai dunia
insan yang berlomba
jangan sampai membutakan mata dan hatiku
Syukur..., sabar
dapat ditegakan
jangan menyerah, tak usah risau
bila hati tergelitik rasa dengki
ingatlah Sang Pencipta
ahhhh, kau dunia
cukup di tanganku dan bukan di dalam hati
ambil dunia tapi jangan lupa akhiratmu
kembali, kembali....
sampai mati
Setiap Orang bisa Menulis
Setiap orang bisa Menulis dengan Baik. Kalimat tersebut membuat semangatku yang turun, bangkit kembali. Sungguh. Ngga nyesel baca-baca buku bagus ini. Keyakinan bahwa setiap orang bisa menulis sangat penting dimiliki sejak awal menulis karena sikap ini berperan lebih besar dari faktor lain. Berpikir positif, bahwa setiap orang bisa menulis. Bagus!!
Setiap orang bisa menulis dengan baik? Yap, dengan cara BERLATIH. Kalau tidak menulis, tulisannya tidak akan menjadi baik (Johnson, 2003).
Menulis perlu dijadikan sebagai kebiasaan, melalui menulis secara teratur, setiap hari, ilham, inspirasi akan muncul". (Zerubavel,19999)
Perlu menyisihkan waktu setiap hari untuk menulis tesis atau desertasinya atau menentukan batas waktu yang spesifik untuk mengetahui jumlah waktu yang dimiliki. Menulis setiap hari, walaupun hanya 15 menit, seperti yang disarankan Bolker(1998), bisa membantu penyelesaian tesis atau desertasi.
Menulis sejak dini dan sering sesungguhnya sangat penting.
Membaca meningkatkan kemampuan menulis. Membaca dapat menambah perbendaharaan kata dan memperluas pengetahuan (Johnson, 2003). Membaca buku yang berbahasa Inggris khususnya akan sangat membantu meningkatkan perbendaharaan kata yang dimiliki. Bahasa Inggris memiliki kosa kata lebih dari satu juta kata, jauh lebih banyak dari pada bahasa internasional lainnya....(Matthews, Bowen dan Matthewa, 2000:158).
Semua penulis tidak menulis draf pertama dengan baik, so jangan cepat patah semangat, coba lagi.Salah satu paradoks dalam hidup, menurut Jahnson adalah bahwa kita (penulis) tidak bisa menulis dengan baik kalau belum menulis draft pertama yang tidak bagus.
Menghadapi Tantangan yang Bisa Menghambat Kelancaran Menulis(khususnya) Tesis dan Diseratasi. Paling tidak ada tiga hambatan / tantangan yang paling utama dalam perjalanan membuat tesis atau desertasi. Yaitu (i) Prokrastinsi atau penundaan pekerjaan, yang bisa sangat mudah menjadi "cara hidup" para penulis tesis dan disertasi, yang sebenarnya berkaitan dengan hambatan emosioanal; (ii) writer's block atau keadaan ketika penulis tidak bisa memunculkan gagasan atau ide dan tidak tahu apa yang dilakukan atau ditulis, dan (iii) karir dalam bekerja yang sudah cukup tinggi.
Yuk, kita coba menulis, sekarang. Mengikat makna lewat tulisan. Mungkin kita bukan orang yang "pintar"berbicara secara lisan. So, menulis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan ide, fikiran, perasaan, dan lain-lain. Yukkk ^_^
Bibliografi
Emilia,E.(2009). Menulis Tesis dan Disertasi. Bandung: Alfabeta,CV.
Setiap orang bisa menulis dengan baik? Yap, dengan cara BERLATIH. Kalau tidak menulis, tulisannya tidak akan menjadi baik (Johnson, 2003).
Menulis perlu dijadikan sebagai kebiasaan, melalui menulis secara teratur, setiap hari, ilham, inspirasi akan muncul". (Zerubavel,19999)
Perlu menyisihkan waktu setiap hari untuk menulis tesis atau desertasinya atau menentukan batas waktu yang spesifik untuk mengetahui jumlah waktu yang dimiliki. Menulis setiap hari, walaupun hanya 15 menit, seperti yang disarankan Bolker(1998), bisa membantu penyelesaian tesis atau desertasi.
Menulis sejak dini dan sering sesungguhnya sangat penting.
Membaca meningkatkan kemampuan menulis. Membaca dapat menambah perbendaharaan kata dan memperluas pengetahuan (Johnson, 2003). Membaca buku yang berbahasa Inggris khususnya akan sangat membantu meningkatkan perbendaharaan kata yang dimiliki. Bahasa Inggris memiliki kosa kata lebih dari satu juta kata, jauh lebih banyak dari pada bahasa internasional lainnya....(Matthews, Bowen dan Matthewa, 2000:158).
Semua penulis tidak menulis draf pertama dengan baik, so jangan cepat patah semangat, coba lagi.Salah satu paradoks dalam hidup, menurut Jahnson adalah bahwa kita (penulis) tidak bisa menulis dengan baik kalau belum menulis draft pertama yang tidak bagus.
Menghadapi Tantangan yang Bisa Menghambat Kelancaran Menulis(khususnya) Tesis dan Diseratasi. Paling tidak ada tiga hambatan / tantangan yang paling utama dalam perjalanan membuat tesis atau desertasi. Yaitu (i) Prokrastinsi atau penundaan pekerjaan, yang bisa sangat mudah menjadi "cara hidup" para penulis tesis dan disertasi, yang sebenarnya berkaitan dengan hambatan emosioanal; (ii) writer's block atau keadaan ketika penulis tidak bisa memunculkan gagasan atau ide dan tidak tahu apa yang dilakukan atau ditulis, dan (iii) karir dalam bekerja yang sudah cukup tinggi.
Yuk, kita coba menulis, sekarang. Mengikat makna lewat tulisan. Mungkin kita bukan orang yang "pintar"berbicara secara lisan. So, menulis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan ide, fikiran, perasaan, dan lain-lain. Yukkk ^_^
Bibliografi
Emilia,E.(2009). Menulis Tesis dan Disertasi. Bandung: Alfabeta,CV.
Sabtu, 02 Juli 2011
Masalah Pendidikan di Indonesia
makalah "MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA "
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan nikmat dan karunianya kepada setiap hamba-Nya. Tentu atas izin-Nya makalah ini dapat saya selesaikan tepat waktu.
Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN. Adapun yang dibahas dalam makalah sederhana ini mengenai Masalah Pendidikan di Indonesia.
Penyusun menyadari akan kemampuan yang masih terbatas. Namun, dalam makalah ini saya sudah berusaha dengan maksimal. Namun saya sadar bahwa makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan juga kritik membangun agar lebih baik di masa yang akan datang.
Jakarta, Juli 2011
Penulis

DAFTAR ISI
Kata pengantar...............................................................................i
Daftar isi..........................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang........................................................1
1.2. Rumusan masalah....................................................3
1.3. Tujuan penulisan......................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia....................................6
2.2. Kualitas Pendidikan di Indonesia....................................7
2.3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia..........................8
2.4. Solusi dari Permasalahan-permasalahan
Pendidikan di Indonesia...................................................15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan..........................................................................18
3.2. Saran....................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap berlangsungnya segala kegiatan yang menyangkut masalah pendidikan. Dilihat dari materi yang digarap, baik yang bersifat formal, informal maupun non formal berisikan generasi muda yang meneruskan kehidupan suatu masyarakat. Oleh karena itu bahan atau materi apa yang akan diberikan kepada anak didik sebagai generasi masa depan haruslah disesuaikan dengan keadaan dan tuntutan masyarakat. Khususnya di Indonesia, negara yang kita cintai ini.
Namun kenyataan yang ada, kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.
Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.
Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yg sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah. Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai.
Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang tidak membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh.
Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi kecil harapan pendidikan bisa lebih maju/baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yg berkualitas mesti bermodal/berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.
Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang tidak membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh.
Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi kecil harapan pendidikan bisa lebih maju/baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yg berkualitas mesti bermodal/berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.
Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja.
Maka dalam makalah ini akan dibahas tentang cirri-ciri pendidikan di Indonesia, bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia, standarisasi pendidikan di negara yang kita cintai ini, dan berusaha memberikan solusi atas masalah-masalah pendidikan ini.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia?
2. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia?
3. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?
4. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Menuliskan ciri-ciri pendidikan di Indonesia.
2. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.
3. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
4. Memaparkan solusi dari masalah-masalah pendidikan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia
Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan budaya. Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.
Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.
2.2. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid,
mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.
Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang.
Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.
“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).
Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:
Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.
Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.
Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.
2.3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:
1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.
2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.
Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.
Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.
Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya.
Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.
Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaansumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.
3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.
Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut. Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan
bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau
lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang dibahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.
Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan
tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.
Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.
Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan dibeberapa Perguruan Tinggi favorit.
Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005)
Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.
Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
2.4. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia
Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:
Langganan:
Postingan (Atom)