Entri Populer

Mengenai Saya

Foto saya
Blog ini saya beri nama INSPIRASI PEREMPUAN. Mengulik tentang semua hal yang berhubungan dengan perempuan.Berbicara seputar Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan, dan lain-lain.Ini adalah blog pertama yang saya buat. Walau sederhana semoga dapat memberikan pencerahan dan manfaat bagi semuanya. Salam Persaudaraan ^_^

Rabu, 20 Juli 2011

cerpen 1

Shalat Yuk Mi
 Kemarin baru saja buku laporan Mimi sudah diambil bunda. Hasilnya lumayan bagus. Dan Mimi naik ke kelas TK B.Bagus. Pagi ini awal hari libur. “Bangun Mi, shalat Mi….” Bunda menepuk-nepuk kaki Mimi pelan. “Ahh Bunda, Mimi masih ngantuk….” Ujar Mimi sambil memeluk. Mimi mimi. Mama pergi ke belakang mengambil air rupanya. Mama menciprati  wajah Mimi dengan air!! Akhirnya Mimi bangun juga. Waktu menunjukn pukul 05.30wib. Mimi langsung ke kamar mandi. Cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Kemudian Mimi shalat subuh. “AllahuAkbar…”
Mimi nama panggilannya. Nama pemberian dari kedua orang tuanya adalah Hilmi Muhammad Al Fatih.  Mimi lahir lima tahun yang lalu. Hobinya makan dan main gangsing.  Dan satu hal lagi yang unik dari Mimi , ia paling susah diajak untuk shalat. Ada saja alasannya, cape, malas, nanti saja dan lain-lain. Bunda Mimi selalu membiasakan anak-anaknya untuk shalat, walau masih kecil sekalipun. Mimi adalah anak kedua. Kakaknya bernama Hidayat. Itulah sekilas tentang Mimi.
“Bun…, lapar…, Bunda masak apa?” Bunda bikin nasi goreng,mau?” Tanya bunda. “Mau dong, Bun.” “Allahumma barriklana lanaa fimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar.” Dengan lahap Mimi menyantap nasi goreng buatan bunda, lezatt. Bersih. Tak tersisa sebutir nasi pun di piringnya. Cocok, Mimi khan hobi makan.
Malam harinya. Selesai shalat Isya, bunda, ayah, Mimi, dan kakaknya berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati acara di televisi. “Besok kita mau ke mana nih?”Tanya ayah membuka percakapan. “Yayat mau nginep di rumah nenek, Yah. Di sana khan ada mas Idang, mas Dafa, Acha, Rafi, dan mas Ipan.”Sahut Hidayat, kakak Mimi. Ayah mengangguk. “Mimi juga Yah…”Timpal Mimi. “Baik, besok kalian boleh menginap di rumah nenek. Liburan di sana selama sepekan, ya.” “Asyikkkk…..terima kasih Yah, Bun.”  Mimi dan Hidayat berlari ke kamar.”Eeeettt tunggu dulu. Ini Bunda ada buku cerita, baru Bunda beli tadi pagi, selagi pergi ke sekolah Mimi.”Ibu berkata sambil mengajak Mimi dan Hidayat duduk di sofa.  Mimi dan Hidayat menuruti permintaan bunda. Mereka duduk bersama. “Buku cerita ini adalah buku bacaan bunda dan ayah juga. Coba kita lihat sama-sama ya…, kakak Yayat coba baca judulnya…”Pinta bunda. “Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka.” Dari judul bukunya dan ilustrasi gambarnya yang dasyat. Membuat Mimi dan Hidayat ngeri. Bunda dan ayah juga.
Bermula ada tukang mainan anak dan ada beberapa buku ini juga. “Ini buku waktu saya kecil nih, masih ada aja,”Ujar Bunda waktu itu. “Ini bagus bu, buat “nakut-nakutin anak”. Kata abang penjualnya. Bunda jadi teringat Mimi. Bismillah.., bunda beli aja Yah. Mudah-mudahan ini bisa menggerakkan Mimi untuk mulai belajar shalat.” Cerita bunda kepada ayah. Luruskan niat, bukan mau menakut-nakuti anak semata….
Dikisahkan dalam buku cerita bergambar itu, dua orang anak manusia yang masih kecil dengan latar kehidupan yang berbeda. Karma, ia seorang anak yang secara ekonomi sangat berkecukupan. Ibu dan bapaknya sibuk bekerja di kantor. Dari pagi hingga larut malam. Karma diasuh oleh pembantu rumah tangga.  Karma banyak menghabiskan waktunya dengan bermain dan menonton televisi. Dan seorang lagi yang bernama Amir hidup dengan sederhana, namun ia memiliki orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan yang baik. Ia tumbuh menjadi anak yang baik, suka belajar, dan rajin pergi mengaji. Ia pun belajar dengan giat dan menjadi murid yang berprestasi. Sedang Karma sebaliknya. Ia tumbuh menjadi anak yang manja, tidak suka belajar, dan suka bolos sekolah. Dua karakter manusia ini, ternyata sungguh membekas di hati Mimi dan Hidayat. “Nah, kamu mau seperti siapa Amir atau Karma?”Tanya bunda disela-sela bercerita.”Amir Bun…”Jawab mereka kompak. “Baik, Bunda lanjutkan lagi ya….”
Karma lulus Sekolah Menengah Atas dengan nilai yang pas-pasan. Sedang Amir lulus dengan nilai yang bagus.” “Bisa ditebak bukan bagaimana kisah selanjutnya?”   “Ayooo Bun lanjutin saja ceritanya. Kami mau tahu samapai habis.”Ujar Hidayat penasaran. Mimi mengangguk setuju.
Karma hidup dengan harta berlimpah, kuliah di luar negeri. Dan bekerja di perusahaan papanya, langsung sebagai direktur utama. Menggantikan ayahnya yang sudah tua. Sedang Hasyim melanjutkan ke perguruan tinggi dengan biaya yang sudah ia dan ayah ibunya kumpulkan bertahun-tahun. Namun karena keuletan dan kesabarannya, Amir lulus dengan nilai yang baik dan berprofesi sebagai dokter ahli syaraf. Hidupnya dekat pada agama. Berusaha keras senantiasa berpegang pada Al Quran dan sunah Rasul  sebagai pedoman hidup dan kehidupannya. Ketika orangtuanya mendekati ajal, Hasyim dan keluarganya tawakal mendampingi dan mengiringinya dengan doa.  Bersedekah, beramal, dan memberikan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya, sebagai dokter spesialis syaraf. Sedang Karma seorang anak yang suka berfoya-foya, bergaul di dalam lingkungan yang buruk. Dan ketika orangtuanya sakaratul maut ia pun tidak mendampingi orangtuanya seperti Amir….
Dan akhirnya Karma meninggal dunia, karena terkena penyakit yang sangat berbahaya, yang belum bisa disembuhkan.
Digambarkan keadaan surga yang begitu indah. Kulihat mata Mimi berbinar-binar. Ketika di lembar yang berkisah tentang neraka terlihat kengerian yang sangat di wajah Mimi dan Hidayat.”Di surga ada berbagai macam kesenangan kenikmatan.Keindahan dan kedamaian yang tiada bandingannya dengan yang ada di dunia ini. Tak tergambarkan oleh angan-angan manusia.”Jelas bunda. “Nah, ini adalah gambaran tentang neraka. Di sinilah berlakunya hukum pengadilan Allah bagi orang-orang yang berdosa dan pendurhaka pada Allah Swt. Timpal ayah kemudian.
Dibuka lembar demi lembar. Semakin banyak contoh-contohnya. Bunda membacakan dengan serius dibantu dengan ayah. Mimi dan Hidayat melihat dan mendengarkan dengan seksama.
“Bun, ada yang disiram dengan timah panas.” Ini hukuman bagi orang yang menigabaikan perintah agama ya, Bun. Ini ada tulisannya Bun.”Ujar Hidayat lagi. Lembar demi lembar, akhirnya selesai sudah. Habis dibaca.”Nah, sekarang kalian tidur ya.” “Bun, Mimi mau shalat isya dulu ya…”Kata Mimi bersemangat. “Iya, biar ngga masuk neraka,”Kata Hidayat. Ayah, bunda, Hidayat tidur setelah shalat Isya. Begitupun dengan Mimi. Kini Mimi lebih mudah diajak untuk shalat.

                                                                                                                                                Jakarta, 1 Juli 20011
Lian Kn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar